Jakarta, Galeri Investasi TSM - Dalam arsitektur pasar modal modern, aksi korporasi atau corporate action merepresentasikan instrumen strategis yang digunakan oleh emiten untuk melakukan rekayasa nilai, restrukturisasi permodalan, serta penyampaian sinyal fundamental kepada para pelaku pasar. Fenomena ini bukan sekadar prosedur administratif rutin, melainkan manifestasi dari kebijakan manajemen dalam mengoptimalkan struktur kekayaan pemegang saham melalui berbagai mekanisme teknis yang mempengaruhi jumlah saham beredar, nilai nominal, maupun distribusi laba. Di bursa efek, pengumuman aksi korporasi sering kali memicu volatilitas harga yang signifikan, mencerminkan bagaimana pasar menyerap informasi baru dan menyesuaikan ekspektasi terhadap prospek masa depan perusahaan.
Aksi korporasi pada dasarnya merupakan langkah perusahaan dalam rangka meningkatkan kinerja atau menunjukkan performa baik, baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang. Melalui langkah-langkah strategis ini, perusahaan memiliki kapasitas untuk mempengaruhi nilai dan struktur dari sahamnya secara langsung. Dalam konteks pasar modal Indonesia, interaksi antara pengumuman aksi korporasi dan respon pasar dipengaruhi oleh tingkat efisiensi pasar serta profil psikologis investor yang beragam, mulai dari institusi global hingga ritel domestik. Tabel berikut merangkum taksonomi aksi korporasi yang paling dominan di Bursa Efek Indonesia (BEI) beserta fungsi strategis utamanya:
Jenis Aksi Korporasi | Mekanisme Utama | Dampak pada Struktur Saham | Tujuan Strategis bagi Emiten |
Dividen | Pembagian laba bersih | Tidak merubah jumlah saham (kecuali dividen saham) | Memberikan imbal hasil langsung dan sinyal stabilitas kas. |
Rights Issue | Penawaran saham baru dengan hak prioritas | Meningkatkan jumlah saham beredar | Menghimpun dana ekspansi atau restrukturisasi utang. |
Stock Split | Pemecahan nilai nominal saham | Meningkatkan jumlah saham secara proporsional | Meningkatkan likuiditas dan keterjangkauan harga. |
Buyback | Pembelian kembali saham dari pasar | Mengurangi jumlah saham yang beredar | Mendukung stabilitas harga dan meningkatkan EPS. |
Mekanisme Dividen sebagai Instrumen Pensinyalan dan Distribusi Kesejahteraan
Dividen merupakan komponen krusial dalam total imbal hasil saham yang mencerminkan pembagian laba bersih perusahaan kepada pemegang saham dalam bentuk dividen tunai maupun dividen saham. Aksi korporasi ini biasanya memberikan sinyal kuat bahwa perusahaan memiliki kinerja keuangan yang sehat dan arus kas yang memadai untuk mendukung operasional sekaligus memberikan return kepada investor. Di pasar modal, pengumuman pembagian dividen sering kali memicu optimisme investor, yang kemudian mendorong kenaikan harga saham hingga tanggal kumulatif dividen (cum-dividend).
Secara teknis, pembagian dividen di Indonesia mengikuti jadwal ketat yang mencakup cum-date, ex-date, recording date, dan payment date. Periode cum-dividend menjadi batas terakhir bagi investor yang ingin memperoleh hak dividen, sementara ex-dividend date menandai hari di mana saham mulai diperdagangkan tanpa hak dividen. Transisi antara cum-date dan ex-date sering kali diikuti oleh fenomena dividend trap, di mana harga saham mengalami penyesuaian turun sebesar nilai dividen yang dibagikan, sebuah mekanisme pasar untuk menjaga keseimbangan nilai intrinsik.
PT Bank Central Asia Tbk (BCA) menjadi salah satu emiten yang secara konsisten menggunakan strategi dividen untuk memperkuat loyalitas pemegang saham. Pada Desember 2025, BCA membagikan dividen interim tunai sebesar Rp55 per lembar saham. Strategi ini merupakan bagian dari kebijakan unik perusahaan yang membagikan dividen dalam dua tahap setiap tahunnya: dividen interim pada akhir tahun (November-Desember) dan dividen final pada awal tahun berikutnya (Maret-April).
Parameter Dividen BBCA | Detail Informasi |
Nilai Dividen Interim | Rp55 per lembar saham. |
Total Pembayaran per Lot | Rp5.500 (1 lot = 100 lembar). |
Estimasi Dividend Yield | ~3,81% (lebih rendah dari median industri 5,86%). |
Pertumbuhan Dividen (5 Tahun) | +17,72% secara kumulatif. |
Tanggal Pembayaran Interim | 22 Desember 2025. |
Analisis terhadap data historis menunjukkan bahwa meskipun imbal hasil dividen (dividend yield) BBCA relatif lebih rendah dibandingkan emiten perbankan besar lainnya, investor tetap melihatnya sebagai pilihan aman karena stabilitas pembayaran dan dukungan cadangan kas yang besar. Bahkan dengan rasio pembayaran (payout ratio) yang terkadang terlihat sangat tinggi di atas 400% dari laba per saham pada periode tertentu, fundamental BBCA tetap dianggap solid karena manajemen yang konservatif serta portofolio kredit yang sehat.
Rekayasa Likuiditas melalui Stock Split: Teori Trading Range dan Signalling
Stock split atau pemecahan saham adalah aksi korporasi yang bertujuan untuk memecah nilai nominal saham menjadi lebih kecil tanpa merubah total nilai kapitalisasi pasar perusahaan. Sebagai contoh, jika sebuah saham yang bernilai Rp10.000 dipecah dengan rasio 1:5, maka jumlah saham akan meningkat lima kali lipat sementara harganya disesuaikan menjadi Rp2.000 per lembar. Manfaat utama bagi perusahaan adalah membuat saham menjadi lebih mudah diperdagangkan di pasar karena harga per unit yang lebih terjangkau, sementara bagi investor, aksi ini memberikan potensi kenaikan nilai saham seiring dengan meningkatnya likuiditas.
Dukungan teoritis terhadap stock split melibatkan dua argumen utama: trading range theory dan signalling theory. Trading range theory berpendapat bahwa terdapat kisaran harga optimal yang disukai oleh pasar, terutama oleh investor ritel yang memiliki keterbatasan modal. Dengan menurunkan harga melalui stock split, emiten menarik basis investor yang lebih luas, yang pada gilirannya meningkatkan volume perdagangan dan efisiensi penemuan harga. Di sisi lain, signalling theory memandang stock split sebagai pesan dari manajemen bahwa mereka mengharapkan kinerja perusahaan akan terus tumbuh di masa depan, sehingga mereka berani memecah saham tersebut.
Penelitian di Bursa Efek Indonesia menunjukkan hasil yang variatif terhadap pengumuman stock split. Beberapa studi mengonfirmasi adanya perbedaan signifikan dalam volume perdagangan dan abnormal return di sekitar tanggal pengumuman, yang menunjukkan bahwa pasar merespon informasi tersebut secara aktif. Namun, studi lain yang menggunakan sampel perusahaan periode 2010-2014 menemukan bahwa pasar terkadang tidak bereaksi secara signifikan, mengindikasikan bahwa pelaku pasar mungkin sudah lebih rasional dan menganggap stock split hanya sebagai perubahan kosmetik tanpa penambahan nilai ekonomis riil.
Rights Issue sebagai Peluang Ekspansi dan Risiko Dilusi
Rights issue atau Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) adalah mekanisme penerbitan saham baru yang ditawarkan kepada pemegang saham lama dengan harga yang biasanya lebih murah dari harga pasar. Aksi ini memberikan kesempatan bagi investor untuk menambah kepemilikannya tanpa harus melalui pasar sekunder, sekaligus memberikan hak prioritas agar persentase kepemilikan mereka tidak tergerus. Bagi perusahaan, rights issue merupakan metode pengumpulan dana tambahan yang efisien untuk pendanaan, pengembangan bisnis, ekspansi, atau restrukturisasi utang.
Meskipun menawarkan harga “tebus” yang diskon, rights issue mengandung risiko dilusi bagi pemegang saham yang tidak mengeksekusi haknya. Dilusi terjadi karena peningkatan jumlah total saham beredar yang menyebabkan persentase kepemilikan investor lama mengecil secara proporsional. Dari perspektif psikologis, investor ritel di Indonesia sering menghadapi dilema antara ketakutan akan penurunan harga saham pasca-penerbitan (karena peningkatan suplai saham) dan peluang untuk mengumpulkan saham di harga yang lebih rendah.
Data empiris dari emiten perbankan yang melakukan rights issue antara tahun 2021-2023 menunjukkan bahwa pasar cenderung bereaksi lebih berhati-hati dibandingkan terhadap pengumuman dividen atau stock split. Studi menunjukkan tidak adanya perbedaan signifikan dalam abnormal return sebelum dan sesudah pengumuman rights issue pada beberapa periode pengamatan, yang mengindikasikan bahwa investor memerlukan strategi komunikasi yang lebih meyakinkan dari emiten mengenai penggunaan dana hasil rights issue agar dapat menarik minat beli yang berkelanjutan.
Strategi Buyback sebagai Mekanisme Pertahanan dan Peningkatan Nilai
Buyback saham adalah aksi korporasi di mana perusahaan membeli kembali sahamnya yang beredar di pasar sekunder. Langkah ini sering kali diambil saat manajemen merasa harga saham perusahaan di pasar sudah berada di bawah nilai intrinsiknya atau ketika terjadi gejolak pasar yang ekstrem yang tidak mencerminkan fundamental perusahaan. Saham yang telah dibeli kembali biasanya dicatat sebagai saham tresuri (treasury stock) yang berfungsi sebagai pengurang ekuitas dan tidak memiliki hak suara atau hak dividen selama masih disimpan oleh perusahaan.
Tujuan strategis utama dari buyback meliputi:
Stabilitas Harga: Mendukung harga saham di bursa agar tidak jatuh terlalu dalam saat terjadi tekanan jual yang masif.
Peningkatan Kepercayaan Investor: Memberikan sinyal bahwa manajemen memiliki keyakinan penuh terhadap prospek bisnis masa depan perusahaan.
Efisiensi Modal: Mengembalikan kelebihan kas kepada pemegang saham dengan cara yang lebih efisien secara pajak dibandingkan dividen.
Peningkatan Laba Per Saham (EPS): Dengan berkurangnya jumlah saham yang beredar, pembagi dalam rumus EPS menjadi lebih kecil, sehingga nilai laba per lembar saham secara matematis akan meningkat di masa depan.
Studi Kasus Buyback BCA Januari 2026: Respon terhadap Volatilitas Pasar
Pada akhir Januari 2026, PT Bank Central Asia Tbk (BCA) menghadapi situasi pasar yang menantang di mana harga sahamnya (kode: BBCA) anjlok hingga 6,33% ke level Rp7.025 per lembar pada penutupan perdagangan 28 Januari 2026. Penurunan ini terjadi di tengah volatilitas pasar yang ekstrem yang bahkan sempat memicu penghentian perdagangan sementara (trading halt) oleh BEI setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambles lebih dari 8%.
Menanggapi kejatuhan harga tersebut, manajemen BCA dengan sigap mengumumkan rencana pembelian kembali saham dengan nilai maksimal Rp5 triliun. Langkah ini bersifat responsif untuk menjaga stabilitas pasar dan memperkuat kepercayaan investor.
Detail Rencana Buyback BBCA 2026 | Informasi Teknis |
Anggaran Maksimum | Rp5.000.000.000.000 (Rp5 Triliun). |
Harga Beli Maksimum | Rp9.200 per lembar saham. |
Sumber Dana | Kas internal (bukan pinjaman). |
Batasan Saham | Maksimal 10% dari modal disetor. |
Jangka Waktu Pelaksanaan | Paling lama 12 bulan setelah persetujuan RUPST (Maret 2026). |
Pihak Eksekutor | PT BCA Sekuritas. |
Manajemen menegaskan bahwa program buyback ini tidak akan mengganggu kinerja keuangan perusahaan karena posisi likuiditas dan permodalan bank masih sangat memadai. Lebih lanjut, pelaksanaan aksi korporasi ini diproyeksikan tidak akan menurunkan jumlah saham beredar di masyarakat (free float) di bawah batas minimum 7,5% dari jumlah saham tercatat.
Implikasi Keuangan dan Analisis Proforma
Dampak teknis dari buyback terhadap indikator keuangan perusahaan dapat dianalisis melalui laporan proforma. Meskipun penggunaan dana tunai sebesar Rp5 triliun akan mengurangi potensi pendapatan bunga dari aset tersebut, dampak keseluruhannya terhadap laba bersih dianggap minimal. Sebaliknya, dampak terhadap rasio pengembalian ekuitas (Return on Equity / ROE) menunjukkan tren positif.
Secara teoritis, ROE dihitung dengan rumus:
Berdasarkan performa keuangan BCA per Desember 2024 yang disesuaikan dengan rencana buyback Rp5 triliun, didapatkan hasil sebagai berikut:
Laba Bersih: Mengalami penurunan estimasi sebesar Rp0,2 triliun (dari Rp54,8 triliun menjadi Rp54,6 triliun) akibat hilangnya potensi bunga atas dana yang digunakan.
Ekuitas: Mengalami penurunan signifikan dari Rp262,6 triliun menjadi Rp257,4 triliun (berkurang ~Rp5,2 triliun termasuk biaya transaksi).
Return on Equity (ROE): Secara teknis meningkat dari 24,56% menjadi 25,02%, atau naik sebesar 46 bps.
Capital Adequacy Ratio (CAR): Rasio kecukupan modal turun 61 bps dari 29,36% ke 28,75%, namun tetap berada di atas standar regulasi yang sehat untuk perbankan.
Peningkatan ROE ini merupakan sinyal efisiensi bagi investor institusi, yang menunjukkan bahwa perusahaan mampu menghasilkan pengembalian yang lebih tinggi bagi setiap unit ekuitas yang tersisa setelah pembelian kembali saham dilakukan.
Psikologi Investor dan Dinamika Pasar Modal Indonesia
Reaksi pasar terhadap aksi korporasi sering kali dipengaruhi oleh profil psikologis investor ritel Indonesia. Fenomena money illusion atau efek fatamorgana sering terjadi saat stock split, di mana investor merasa lebih untung hanya karena memiliki lebih banyak lembar saham, padahal secara substansi nilai ekonomisnya tetap sama. Selain itu, perilaku investor lokal sering kali dipengaruhi oleh sentimen pasar global dan pergerakan investor asing.
Pada kasus penurunan saham BBCA di akhir 2025, anjloknya harga dipicu oleh aksi jual agresif investor asing (net sell) yang didorong oleh kebutuhan realokasi dana global dan ketidakstabilan sentimen makro. Saat harga turun ke kisaran Rp8.100 pada Desember 2025 dan kemudian ke Rp7.025 pada Januari 2026, banyak investor ritel yang terjebak dalam kepanikan. Namun, bagi investor jangka panjang yang berorientasi fundamental, koreksi ini justru dipandang sebagai window of opportunity untuk melakukan akumulasi saham blue-chip dengan harga diskon.
Tingkat suku bunga Bank Indonesia yang berada di level 4,75% pada akhir 2025 juga menjadi faktor pertimbangan penting dalam valuasi perbankan. Penurunan suku bunga di masa depan diperkirakan akan mendorong aktivitas pembiayaan dan menurunkan biaya dana, yang menguntungkan perbankan besar seperti BCA yang memiliki basis dana murah (CASA) yang kuat di atas 80%.
Evaluasi Fundamental dan Proyeksi Masa Depan
Meskipun menghadapi volatilitas jangka pendek akibat sentimen global dan dinamika bursa lokal (termasuk isu MSCI dan pengunduran diri pejabat bursa), fundamental perbankan besar di Indonesia tetap menunjukkan daya tahan yang luar biasa. BCA, misalnya, mencatatkan laba bersih sebesar Rp57,5 triliun sepanjang tahun 2025, tumbuh 4,9% dibandingkan tahun sebelumnya.
Proyeksi untuk tahun 2026 tetap optimis dengan estimasi pertumbuhan kredit di kisaran 8-10%. Menurut Senior Investment Information dari Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, mempertahankan rekomendasi beli (BUY) untuk BBCA dengan target harga jangka panjang yang berkisar antara Rp10.800 hingga Rp12.500. Valuasi saat ini yang berada di bawah rata-rata historis (PBV 3,4x dibandingkan rata-rata 3,6x) memberikan margin keamanan yang cukup bagi investor.
Indikator Kinerja BBCA (FY2025/2026F) | Nilai / Proyeksi |
Laba Bersih 2025 | Rp57,5 Triliun (+4,9% YoY). |
Pertumbuhan Kredit 2026 | 8 – 10%. |
Rasio Kredit Bermasalah (NPL) | ~1,7% (terkendali). |
Cost of Credit (CoC) | 0,5 – 0,6%. |
Target Harga Jangka Panjang | Rp10.800 – Rp12.500. |
Kesimpulan
Analisis mendalam terhadap berbagai aksi korporasi mulai dari dividen, stock split, rights issue, hingga buyback menunjukkan bahwa langkah-langkah strategis ini merupakan instrumen vital bagi emiten untuk mengelola persepsi pasar dan struktur modal secara efektif. Kasus “Double Move” BCA melalui dividen interim dan rencana buyback Rp5 triliun pada periode 2025-2026 mendemonstrasikan bagaimana sebuah perusahaan blue-chip menggunakan cadangan kasnya yang melimpah untuk memberikan imbal hasil sekaligus menjaga stabilitas harga di tengah badai volatilitas pasar.
Bagi investor, pemahaman mengenai mekanisme teknis dan implikasi psikologis dari setiap aksi korporasi adalah kunci untuk membuat keputusan investasi yang rasional. Meskipun pasar dapat bereaksi secara emosional dalam jangka pendek, dalam jangka panjang harga saham akan selalu kembali pada nilai intrinsiknya yang didorong oleh kekuatan fundamental perusahaan. Aksi korporasi yang dilakukan dengan prinsip tata kelola yang baik (GCG) dan didukung oleh kinerja keuangan yang solid bukan hanya sekadar “drama pasar”, melainkan pendorong utama bagi terciptanya efisiensi dan pertumbuhan nilai yang berkelanjutan bagi seluruh pemegang saham.
Sumber:
Maulana, M. I., Yuliana, I., & Fakultas Ekonomi, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang. (2022). Analysis of the Effect of Stock Split Corporate Action on Stock Prices with Liquidity as an Intervening Variable. In Fakultas Ekonomi, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang (pp. 42–48).
Darmadji, F., & El Fuad, F. R. (2001). Corporate Action. In Corporate Action (pp. 27–29)
Dermawan, R. T. (2026b, January 29). Bank BCA Umumkan Rencana Buy Back Saham, Siapkan Dana Rp5 Triliun - Finansial. Bloomberg Technoz. https://www.bloombergtechnoz.com/detail-news/97941/bank-bca-umumkan-rencana-buy-back-saham-siapkan-dana-rp5-triliun
Andani, L. (2026, January 1). Mengenal Aksi Korporasi yang Memengaruhi Harga Saham. Makmur.id. https://www.makmur.id/id/blog/artikel/mengenal-aksi-korporasi-yang-memengaruhi-harga-saham
Suwendiyanti, R., & Gantino, R. (2022). Analysis on Ex-Dividend Phenomenon before and During COVID-19 Pandemic in Indonesia (Study on Index IDX High Dividend 20). East African Scholars Journal of Economics Business and Management, 5(1), 1–10. https://doi.org/10.36349/easjebm.2022.v05i01.001
BCA, B. H. (2025, November 24). BCA Bagikan Dividen Interim Tunai Rp55 per Saham. bca.co.id. https://www.bca.co.id/id/tentang-bca/media-riset/pressroom/siaran-pers/2025/12/02/03/13/bca-bagikan-dividen-interim-tunai-rp55-per-saham
Napitupulu, F. (2025a, December 9). BBCA Anjlok Hari Ini (9/12/2025): Penyebab, Dampak, dan Fakta Penting untuk Investor. Mistar.id. https://mistar.id/news/ekonomi/bbca-anjlok-hari-ini-9122025-penyebab-dampak-dan-fakta-penting-untuk-investor
Mstockblog-Admin-C847d63c. (2025, September 24). Dividen BBCA 2025: Stabil & Tumbuh Cepat, Ini Ulasannya! M-STOCK Blog. https://mstock.miraeasset.co.id/blog/dividen-bbca/
Irmayani, N. W. D., I., Wiagustini, N. L. P., & Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana (Unud), Bali-Indonesia. (2015). DAMPAK STOCK SPLIT TERHADAP REAKSI PASAR PADA PERUSAHAAN YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA. In E-Jurnal Manajemen Unud: Vol. Vol.4 (Issue No.10, pp. 3287–3316).
Awabi, M. M. & Universitas Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia. (2022). Analisis abnormal return sebelum dan sesudah melakukan corporate action stock split maupun rights issue. In Jurnal Ilmu Manajemen (Vol. 11, Issue 1, pp. 200–210) [Journal-article]. https://journal.unesa.ac.id/index.php/jim
Hutabarat, S. F. T., Situmorang, S. H., & Muda, I. (2024). Pengaruh Right Issue Terhadap Harga Saham Pada Perbankan Yang Terdaftar Di Bei Periode 2021-2023. Owner, 8(2), 1423–1438. https://doi.org/10.33395/owner.v8i2.2038
Izzudin, M. A., & Izzudin, M. A. (2024, March 25). Pengertian Private Placement & Bedanya Dengan Right Issue. InvestasiKu. https://www.investasiku.id/eduvest/saham/bedanya-private-placement-dan-right-issue
Shodik, J. (2026, January 29). Saham Drop, Bbca Buyback Maksimal Rp5 Triliun. emitennews.com. https://emitennews.com/news/saham-drop-bbca-buyback-maksimal-rp5-triliun
PT BANK CENTRAL ASIA TBK. (2025). KETERBUKAAN INFORMASI SEHUBUNGAN DENGAN RENCANA PEMBELIAN KEMBALI SAHAM DALAM KONDISI PASAR YANG BERFLUKTUASI SECARA SIGNIFIKAN. In bca.co.id. https://www.bca.co.id/-/media/Feature/Report/File/Aksi-Korporasi/Aksi-Korporasi-Lainnya/2025/20251020-indo-fin-ki-share-buy-back-20-oct.pdf
Sekuritas, B. (2026, February 13). BELUM DILEPAS KE PASAR, BCA MASIH SIMPAN 28,3 JUTA SAHAM HASIL BUYBACK. BCA Sekuritas. https://bcasekuritas.co.id/latest-news/news/belum-dilepas-ke-pasar-bca-masih-simpan-283-juta-saham-hasil-buyback
Yolandha, F. (2025, October 20). BCA Lakukan Buyback Saham Maksimal Rp5 Triliun, Tunjukkan Optimisme terhadap Prospek Bisnis. Republika Online. https://ekonomi.republika.co.id/berita/t4fi1l370/bca-lakukan-buyback-saham-maksimal-rp5-triliun-tunjukkan-optimisme-terhadap-prospek-bisnis
Muslimawati, N. (2026, January 29). Bca Berencana Buyback Saham Senilai Maksimal Rp 5 Triliun. Kumparan. https://kumparan.com/kumparanbisnis/bca-berencana-buyback-saham-senilai-maksimal-rp-5-triliun-26izspuUmcn
Sahara, N. (2026, January 29). BBCA Bakal Buyback Saham Maksimal RP5 Triliun. investor.id. https://investor.id/market/426418/bbca-bakalbuyback-saham-maksimal-rp5-triliun
BRIDS, T. E. (2025, November 28). BBCA - Analisis Fundamental. brights.id. https://www.brights.id/id/blog/bbca-november-2025
FXStreet, T. (2025, December 18). BBCA Naik Lebih dari 2% ke 8.250, Semakin Dekat dengan Pembayaran Dividen Interim. FXStreet. https://www.fxstreet-id.com/news/bbca-naik-lebih-dari-2-ke-8250-semakin-dekat-dengan-pembayaran-dividen-interim-202512180743
Angriani, D. (2025, October 21). Buyback dan Dividen Jadi Daya Tarik, Seberapa Prospektif BBCA? IDXChannel. https://www.idxchannel.com/market-news/buyback-dan-dividen-jadi-daya-tarik-seberapa-prospektif-bbca
Prayoga, H. (2026, January 29). BCA (BBCA) Umumkan Buyback Saham Senilai Rp5 Triliun. KabarBursa.com. https://www.kabarbursa.com/market-hari-ini/bca-bbca-umumkan-buyback-saham-senilai-rp5-triliun
Mahardhika, J. (2025, October 21). BBCA Bisa Lebih Kencang, Ada Potensi Rasio Dividen Naik. investor.id. https://investor.id/market/414122/bbca-bisa-lebih-kencang-ada-potensi-rasio-dividen-naik
Khaerunnisa, R. (2026, January 29). BCA bakal "buyback" saham dengan nilai maksimal Rp5 triliun. Antara News. https://www.antaranews.com/berita/5382474/bca-bakal-buyback-saham-dengan-nilai-maksimal-rp5-triliun
Mstockblog-Admin-C847d63c. (2025a, August 4). Prospek Saham BBCA: Peluang Investasi Fundamental Kuat. M-STOCK Blog. https://mstock.miraeasset.co.id/blog/prospek-saham-bbca/
