Back to Education
Education

Saham Konglomerat vs Saham Bluechip

9 Maret 2026
Admin GalVest
Saham Konglomerat vs Saham Bluechip

Jakarta, Galeri Investasi TSM - Pasar modal Indonesia sepanjang tahun 2025 telah menunjukkan sebuah anomali struktural yang mendalam, di mana terjadi pergeseran paradigma investasi dari saham-saham berkapitalisasi pasar besar tradisional (blue chip) menuju saham-saham yang terafiliasi dengan kelompok konglomerasi besar. Fenomena ini bukan sekadar fluktuasi harga jangka pendek, melainkan refleksi dari rekonfigurasi ekonomi politik dan strategi hilirisasi industri yang dicanangkan pemerintah. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan kenaikan signifikan sebesar 18,23% sepanjang tahun berjalan, bahkan berhasil menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa (All Time High) di angka 8.472 basis poin. Namun, di balik angka pertumbuhan indeks yang mengesankan tersebut, tersimpan divergensi tajam antara kinerja emiten yang dikendalikan oleh para tokoh konglomerat dengan indeks LQ45 yang cenderung stagnan. Artikel ini akan membedah secara mendalam faktor-faktor penggerak di balik performa spektakuler saham konglomerat, tantangan likuiditas yang dihadapi saham blue chip, serta bagaimana dinamika ini akan membentuk lanskap investasi pada tahun 2026 di bawah bayang-bayang perubahan metodologi indeks global seperti MSCI.

Ekosistem, Sentimen, dan Keuntungan Eksponensial

Tahun 2025 ditandai dengan dominasi mutlak saham-saham konglomerat dalam menggerakkan bobot IHSG. Pengamatan pasar menunjukkan bahwa kenaikan harga saham ini sering kali tidak didorong oleh kinerja fundamental kuartalan semata, melainkan oleh posisi strategis mereka dalam ekosistem ekonomi nasional dan keterlibatan langsung dalam proyek-proyek strategis pemerintah. Para konglomerat seperti Prajogo Pangestu, Haji Isam, Aburizal Bakrie, dan Happy Hapsoro telah berhasil mengonsolidasikan aset-aset mereka untuk menangkap sentimen positif dari regulasi baru dan proyek infrastruktur.

Grup Barito Pacific: Ekspansi Energi Hijau dan Petrokimia Terintegrasi

Di bawah kepemimpinan Prajogo Pangestu, Grup Barito Pacific (BRPT) telah bertransformasi menjadi kekuatan dominan di bursa saham Indonesia. Fokus grup ini pada sektor energi baru terbarukan (EBT) melalui Barito Renewables Energy (BREN) dan petrokimia melalui Chandra Asri Pacific (TPIA) memberikan narasi pertumbuhan yang sangat menarik bagi investor yang mencari eksposur pada transisi energi.

Emiten

Return

Sektor Utama

BRPT

369%

Petrokimia & Holding

BREN

122%

Energi Baru Terbarukan

CDIA

1229%

Solusi Infrastruktur

CUAN

471%

Tambang Batubara

TPIA

58%

Petrokimia

PTRO

146%

Jasa Pertambangan

GZCO

438%

Perkebunan Sawit

Data menunjukkan bahwa kenaikan harga saham dalam grup ini sangat masif, dengan emiten infrastruktur seperti CDIA mencatatkan pertumbuhan luar biasa sebesar 1229%. Kenaikan ini didukung oleh aksi korporasi yang agresif, termasuk rencana ekspansi kapasitas panas bumi oleh BREN yang menargetkan investasi hingga Rp 6 triliun. Star Energy Geothermal, sebagai unit usaha BREN, tengah menggarap proyek-proyek strategis seperti Wayang Windu Unit 3 dan Salak Unit 7 yang dijadwalkan mencapai Commercial Operation Date (COD) pada Desember 2026. Proyeksi menunjukkan bahwa langkah ini akan meningkatkan kapasitas produksi energi bersih grup secara signifikan, memperkuat posisi Indonesia dalam peta energi hijau global.

Strategi diversifikasi juga terlihat jelas pada TPIA yang mengembangkan pabrik Klor Alkali Etilen Diklorida (CA-EDC) di Cilegon. Proyek ini ditargetkan rampung pada tahun 2026 dan mulai beroperasi penuh pada 2027, yang diproyeksikan akan meningkatkan total kapasitas produksi petrokimia grup menjadi 21 juta ton per tahun. Analis memproyeksikan bahwa integrasi operasional yang kuat ini akan memberikan leverage yang signifikan terhadap pendapatan grup dalam jangka menengah, dengan estimasi CAGR pendapatan sebesar 41,4% hingga tahun 2029.

Jhonlin Group: Kedaulatan Energi melalui Biodiesel B50

Grup Jhonlin, milik Andi Syamsudin Arsyad atau Haji Isam, mencatatkan performa yang bersifat parabolik sepanjang tahun 2025. Dua emiten utamanya, Jhonlin Agro Raya (JARR) dan Pradiksi Gunatama (PGUN), menjadi sorotan utama pasar karena kenaikan harga yang mencapai ribuan persen. Analisis mengindikasikan bahwa motor penggerak utama dari kenaikan ini adalah keterlibatan grup dalam program mandatori Biodiesel B50 yang dicanangkan pemerintah.

Emiten

Return

Fokus Bisnis

JARR

4039%

Pengolahan Sawit & Biodiesel

PGUN

7645%

Perkebunan Kelapa Sawit

TEBE

781%

Jasa Pertambangan

FAST

457%

Konsumsi/Ritel

Sentimen Biodiesel B50, yang merupakan campuran 50% FAME sawit dengan 50% solar, dipandang sebagai kunci kedaulatan energi nasional. JARR diposisikan sebagai salah satu pemain utama dalam rantai pasok energi ini, terutama dengan integrasi lahan perkebunan dan fasilitas pengolahan biodiesel yang mereka miliki. Selain itu, grup ini menunjukkan agresivitas luar biasa dengan pembelian 2.000 unit ekskavator dari SANY Group untuk mendukung proyek pertanian skala besar di Papua, yang juga menjadi bagian dari inisiatif ketahanan pangan pemerintah. Kinerja keuangan PGUN pada semester I-2025 menunjukkan pertumbuhan penjualan bersih sebesar 48,9%, dengan laba bersih melonjak hingga 690% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, memberikan landasan fundamental bagi kenaikan harga sahamnya.

Bakrie Group: Transformasi Ekosistem “Salim Effect”

Grup Bakrie mengalami fase re-rating yang signifikan pada tahun 2025, didorong oleh masuknya Grup Salim sebagai mitra strategis dalam beberapa emiten kunci seperti BUMI dan BRMS. Kehadiran “Salim Effect” memberikan kepercayaan baru bagi investor mengenai stabilitas pendanaan dan tata kelola perusahaan di masa depan.

Emiten

Return

Katalis Utama

BUMI

218%

Masuknya Salim Group, Hilirisasi Batubara

BRMS

268%

Produksi Emas, Proyek Tembaga-Emas

ENRG

689%

Kenaikan Cadangan Migas

VKTR

457%

Kendaraan Listrik (EV), Bus Transjakarta

DEWA

445%

Restrukturisasi Utang, Kontrak Baru

VKTR Teknologi Mobilitas menjadi salah satu permata dalam Grup Bakrie dengan fokusnya pada ekosistem kendaraan listrik (EV) komersial. VKTR telah mengamankan kontrak untuk mensuplai 80 unit bus listrik berukuran 12 meter bagi Transjakarta hingga tahun 2026. Upaya lokalisasi produksi melalui perakitan lokal juga mulai membuahkan hasil, di mana beberapa unit terbaru telah memenuhi sertifikasi TKDN di atas 40%. Di sisi lain, BUMI dan BRMS terus menggenjot produksi di sektor mineral mentah dan emas, di mana kenaikan harga emas dunia memberikan insentif tambahan bagi pertumbuhan laba bersih mereka. Darma Henwa (DEWA) juga berhasil mengamankan kredit sindikasi senilai Rp 5 triliun dari BCA dan Bank Mandiri untuk mendukung operasional dan pengadaan alat berat baru, yang menandakan pulihnya kepercayaan institusi perbankan terhadap grup ini.

Grup Happy Hapsoro: Fokus pada Infrastruktur Gas dan Logistik Energi

Rukun Raharja (RAJA) mewakili kekuatan konglomerasi baru yang fokus pada sektor infrastruktur energi hulu hingga hilir. Sepanjang tahun 2025, RAJA mencatatkan kenaikan harga saham sebesar 304%, didorong oleh strategi ekspansi yang agresif melalui pengembangan pipa gas dan terminal LNG.

Emiten

Return

Sektor

RAJA

304%

Infrastruktur Energi

RATU

847%

Properti & Investasi

BUVA

2283%

Pariwisata & Hotel

MINA

491%

Properti

SINI

248%

Jasa Logistik

RAJA telah menyiapkan anggaran belanja modal (capex) sebesar US$ 50–60 juta atau setara Rp 997,13 miliar untuk periode 2025–2026. Sembilan proyek strategis dalam pipeline mereka mencakup pembangunan pipa BBM di Kalimantan Timur yang direncanakan mulai konstruksi pada kuartal I-2026, serta akuisisi pembangkit EBT berbasis hidro dan biomassa yang saat ini dalam tahap uji tuntas. Langkah RAJA dalam mengakuisisi perusahaan pelayaran yang memiliki aset kapal Liquefied Natural Gas Carrier (LNGC) menunjukkan ambisi grup untuk menguasai seluruh rantai logistik energi nasional.

Stagnasi dalam Saham Blue Chip: Analisis Likuiditas dan Perubahan Sentimen Global

Berbeda dengan euforia saham konglomerat, Indeks LQ45 yang diisi oleh saham-saham blue chip seperti BBCA, BBRI, BMRI, dan TLKM hanya mencatatkan kenaikan sebesar 2,11% pada tahun 2025. Stagnasi ini mencerminkan adanya tantangan fundamental dalam penyerapan kredit perbankan dan tekanan daya beli masyarakat yang berdampak pada sektor konsumsi.

Sektor Perbankan: Tantangan Penyerapan Kredit dan Normalisasi Margin

Saham perbankan besar yang secara historis menjadi tulang punggung IHSG justru mengalami kelesuan sepanjang tahun 2025. BBCA terkoreksi 15,25%, BMRI turun 9,65%, dan BBRI terkoreksi 6,86% year-to-date. Salah satu penyebab utamanya adalah ketidakmampuan perbankan dalam menyalurkan likuiditas yang melimpah menjadi kredit produktif. Meskipun Bank Indonesia (BI) telah menurunkan suku bunga acuan ke level 4,75% sejak akhir 2024, penyaluran kredit ke masyarakat masih terasa terhambat oleh kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih di tingkat ritel.

Bank

Net Buy/Sell Asing

Pertumbuhan Kredit

Keterangan

BBCA

Net Sell Rp27,05 T

Inline

Tekanan jual asing masif

BMRI

Net Sell Rp14,8 T

Inline

Fokus pada korporasi

BBRI

Net Sell Rp6,98 T

Inline

Tekanan pada sektor mikro

BRIS

Net Buy Rp1,5T

Tinggi

Favorit baru investor asing

Data menunjukkan bahwa investor asing melakukan aksi jual bersih yang sangat besar pada saham-saham perbankan “Big Three”, mencapai total puluhan triliun rupiah sepanjang 2025. Namun, menariknya, saham PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) justru menjadi pengecualian dengan mencatatkan pertumbuhan kepemilikan asing sebesar 1,3% secara tahunan, didorong oleh pertumbuhan segmen imbal hasil tinggi dan bisnis emas yang kuat. Proyeksi untuk tahun 2026 menunjukkan bahwa pertumbuhan kredit nasional diperkirakan berada di rentang 8–12%, namun bank harus berjuang untuk mengompensasi penurunan imbal hasil pinjaman akibat suku bunga yang lebih rendah melalui volume kredit yang lebih besar.

Sektor Konsumsi: Antara Tekanan PPN dan Harapan Pemulihan 2026

Emiten konsumsi seperti Indofood CBP (ICBP) dan Unilever Indonesia (UNVR) juga mengalami masa-masa sulit pada tahun 2025. ICBP sempat mengalami derating sektor yang diperburuk oleh penghapusan dari indeks MSCI tertentu, menyebabkan harga sahamnya turun 27% secara year-to-date.

Namun, para analis melihat adanya titik balik pada tahun 2026. Pemulihan laba yang lebih solid untuk ICBP diproyeksikan baru akan terlihat pada tahun buku 2026 seiring dengan stabilnya harga bahan baku seperti gandum dan CPO. ICBP diproyeksikan mengalami pertumbuhan laba inti sebesar 7,3% pada tahun 2026, menjadikannya pilihan utama di sektor konsumer karena valuasi yang dianggap sudah sangat murah di level P/E 9,1 kali. UNVR juga menunjukkan sinyal kebangkitan dengan momentum penjualan yang mulai membaik sejak kuartal III-2025, didorong oleh efisiensi biaya operasional dan re-focusing pada produk inti.

Dinamika Makroekonomi dalam Landasan Pertumbuhan Menuju 2026

Stabilitas ekonomi nasional tetap terjaga di tengah fluktuasi pasar modal. Bank Indonesia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi nasional di angka 4,7% – 5,5% untuk tahun 2025 dan berpotensi berakselerasi ke rentang 4,9% – 5,7% pada tahun 2026.

Kebijakan Moneter dan Suku Bunga BI Rate

Bank Indonesia memutuskan untuk menahan BI-Rate di level 4,75% hingga akhir tahun 2025 untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah dan menarik aliran modal masuk di tengah ketidakpastian global. Ruang untuk penurunan suku bunga lebih lanjut tetap terbuka di tahun 2026, mengingat inflasi diperkirakan akan tetap terkendali dalam sasaran 2,5% ± 1%.

Indikator

Estimasi 2025

Proyeksi 2026

Pertumbuhan PDB

5,01%

5,10%

Inflasi

2,70%

3,00%

BI-Rate

3,75 – 4,75%

3,50%

Nilai Tukar USD/IDR

16.470

16.950

Proyeksi makroekonomi ini menunjukkan bahwa pemerintah berusaha menyeimbangkan antara stabilitas fiskal dan dorongan pertumbuhan melalui stimulus pada sektor-sektor prioritas. Cadangan devisa yang tercatat sebesar US$ 154,6 miliar di awal 2026 memberikan bantalan yang cukup kuat bagi Rupiah menghadapi volatilitas suku bunga global.

Hilirisasi Industri sebagai Katalis Utama Investasi

Program hilirisasi tetap menjadi motor utama realisasi investasi. Hingga akhir tahun 2025, investasi di sektor hilirisasi mineral melonjak 43,3%, membuktikan bahwa kebijakan larangan ekspor bijih mentah telah berhasil menarik modal asing untuk membangun fasilitas pengolahan di dalam negeri. Danantara, sebagai lembaga baru, telah memulai groundbreaking enam proyek hilirisasi dengan total nilai investasi mencapai US$ 7 miliar pada awal 2026, yang mencakup sektor DME batubara dan pengolahan nikel-baterai. Ekspansi ini memberikan keuntungan jangka panjang bagi emiten-emiten yang terintegrasi secara vertikal di sektor energi dan pertambangan.

Metodologi Indeks Global: Rebalancing MSCI dan Ancaman Likuiditas

Pasar modal Indonesia menghadapi tantangan signifikan terkait perubahan metodologi indeks MSCI pada tahun 2026. MSCI berencana memperketat kriteria free float dan likuiditas, yang dapat memicu arus keluar dana pasif asing sebesar US$ 2 miliar jika emiten-emiten besar tidak segera memperbaiki struktur kepemilikan publik mereka.

Kriteria Free Float dan ATVR (Annualized Traded Value Ratio)

MSCI kini mulai mempertimbangkan Monthly Holding Composition Report dari KSEI untuk memvalidasi porsi kepemilikan saham publik yang benar-benar likuid. Salah satu metrik utama yang digunakan adalah ATVR, di mana ambang batas minimum yang dianggap aman oleh investor institusi global adalah sebesar 15%.

Kode Saham

Status Likuiditas

Potensi di MSCI 2026

BUMI

ATVR Sangat Tinggi (498%)

Potensi naik kelas ke Standard Index

PTRO

ATVR Tinggi (> 200%)

Potensi naik kelas ke Standard Index

PANI

Market Cap Besar

Tergantung pada verifikasi Free Float

BREN

Market Cap Sangat Besar

Berisiko bobotnya turun jika Free Float terbatas

Analisis teknis menunjukkan adanya risiko “Hotel California” pada beberapa saham berkapitalisasi raksasa yang tidak likuid, di mana investor dapat membeli saham tersebut tetapi akan kesulitan untuk menjualnya tanpa merusak harga pasar. Perubahan aturan BEI yang berencana menaikkan batas minimum free float menjadi 10 – 15% juga akan memaksa banyak emiten konglomerat untuk melepas lebih banyak saham ke publik guna mempertahankan posisi mereka di indeks global.

Inflow Dana Asing pada Awal 2026

Meskipun terdapat ancaman arus keluar dana akibat rebalancing, pada awal Februari 2026, investor asing justru mencatatkan nilai beli bersih sebesar Rp 944 miliar. Aliran dana ini terkonsentrasi pada saham-saham yang diproyeksikan akan masuk atau naik kelas dalam rebalancing MSCI Februari 2026, seperti BUMI dan PTRO. Spekulasi “buy on rumor” ini sering kali diikuti oleh aksi “sell on news” saat tanggal efektif rebalancing berlaku, sehingga investor ritel diingatkan untuk waspada terhadap volatilitas jangka pendek.

Analisis Sektoral dan Pilihan Saham

Berdasarkan dinamika yang ada, beberapa sektor diprediksi akan menjadi penggerak pasar di tahun 2026:

  1. Sektor Perbankan: Menjadi pilihan utama untuk strategi rotasi aset. Fokus pada BMRI, BBCA, dan BRIS karena kemampuan mereka menavigasi kompresi imbal hasil melalui pertumbuhan volume kredit.

  2. Sektor Konsumsi: ICBP dan AMRT dijagokan karena pemulihan daya beli dan valuasi yang sangat murah.

  3. Sektor Energi Baru & Hilirisasi: BRPT dan BREN tetap menarik selama proyek ekspansi panas bumi berjalan sesuai jadwal.

  4. Sektor Transportasi EV: VKTR memiliki potensi pertumbuhan yang solid seiring dengan peningkatan adopsi bus dan truk listrik di berbagai sektor komersial.

Kesimpulan

Pasar modal Indonesia di tahun 2025 hingga awal 2026 telah memberikan pelajaran berharga mengenai pentingnya memahami dinamika ekosistem konglomerasi dan pengaruh kebijakan pemerintah terhadap nilai aset. Dominasi saham konglomerat yang didorong oleh sentimen proyek strategis nasional seperti Biodiesel B50 dan hilirisasi nikel telah memberikan imbal hasil yang luar biasa, namun juga membawa risiko volatilitas dan likuiditas yang tinggi.

Di sisi lain, saham blue chip yang sempat terabaikan kini menawarkan peluang investasi yang menarik melalui valuasi yang terdiskon dan fundamental yang tetap kokoh. Rotasi dana dari saham konglomerat yang sudah jenuh menuju saham blue chip diperkirakan akan menjadi tema utama di tahun 2026, didorong oleh perbaikan daya beli masyarakat dan normalisasi kebijakan suku bunga.

Perubahan metodologi indeks MSCI akan menjadi faktor penentu bagi aliran modal asing di masa depan. Emiten yang mampu menunjukkan transparansi free float dan menjaga likuiditas harian yang tinggi akan menjadi pemenang dalam menarik dana institusi global. Investor disarankan untuk tetap rasional, menghindari jebakan spekulasi pada saham dengan likuiditas rendah, dan fokus pada perusahaan yang memiliki jalur pertumbuhan laba yang jelas serta posisi strategis dalam ekonomi baru Indonesia yang berbasis pada keberlanjutan dan nilai tambah industri.

Sumber:

Putri, K. (2026, January 22). Prospek Barito Pacific (BRPT) dari Ekspansi Energi Bersih dan Petrokimia. Katadata. https://katadata.co.id/finansial/bursa/6971b0deb3a47/prospek-barito-pacific-brpt-dari-ekspansi-energi-bersih-dan-petrokimia

Perkuat Transisi Energi, Barito Renewables Resmikan Ekspansi dan Penambahan Kapasitas Lima Proyek Star Energy Geothermal. (n.d.). Barito Renewables. https://www.baritorenewables.co.id/id/press-release/strengthening-the-energy-transition-barito-renewables-inaugurates-expansion-and-capacity-addition-of-five-star-energy-geothermal-projects

Desfika, T. S. (2025, October 22). Kenapa saham Emiten Haji Isam JARR tiba-tiba laris? investor.id. https://investor.id/market/414269/kenapa-saham-emiten-haji-isam-jarr-tibatiba-laris

Channel, T. R. I. (2025, September 19). Saham Haji Isam JARR-PGUN Cs Curi Perhatian, Intip Analisisnya. https://www.idxchannel.com/. https://www.idxchannel.com/market-news/saham-haji-isam-jarr-pgun-cs-curi-perhatian-intip-analisisnya/2

Sufa, I. G. (2026, January 5). Salim Efek di Balik Bangkitnya Saham Grup Bakrie BUMI-BRMS, Cek Prospek di 2026. Katadata. https://katadata.co.id/finansial/bursa/695c6674779db/salim-efek-di-balik-bangkitnya-saham-grup-bakrie-bumi-brms-cek-prospek-di-2026

Kencana, M. R. B. (2025, December 5). Emiten Bakrie Group VKTR Suplai 80 Bus Listrik Transjakarta hingga 2026. liputan6.com. https://www.liputan6.com/saham/read/6229910/emiten-bakrie-group-vktr-suplai-80-bus-listrik-transjakarta-hingga-2026

SNCTechnologies. (2025, November 6). Grup Bakrie Indonesia mengincar tambang nikel dan bermitra untuk proyek EV senilai $9 miliar - SNCTeknologi. SNCTechnologies. https://snctechnologies.com/id/grup-bakrie-indonesia-mengincar-tambang-nikel-dan-bermitra-untuk-proyek-ev-senilai-9-miliar/

Channel, T. R. I. (2026, January 3). Geliat Saham Grup Bakrie di Awal 2026, DEWA dan VKTR Sentuh Rekor Tertinggi. https://www.idxchannel.com/. https://www.idxchannel.com/market-news/geliat-saham-grup-bakrie-di-awal-2026-dewa-dan-vktr-sentuh-rekor-tertinggi

Hidayat, A. (2025, October 27). Emiten Rukun Raharja Siapkan Rp 997 M buat Proyek Pipa BBM-Pembangkit EBT. Detikfinance. https://finance.detik.com/bursa-dan-valas/d-8180206/emiten-rukun-raharja-siapkan-rp-997-m-buat-proyek-pipa-bbm-pembangkit-ebt

Pratiwi, D. A. (2025, October 27). Rukun Raharja (RAJA) Paparkan Strategi Pertumbuhan dan Transformasi Korporasi. https://www.idxchannel.com/. https://www.idxchannel.com/market-news/rukun-raharja-raja-paparkan-strategi-pertumbuhan-dan-transformasi-korporasi

Paramahamsa, I. P. G. R., & Durrohman, I. (2025, December 18). Adu Cuan Saham Konglomerat Vs Blue Chip, Siapa Unggul di 2026? Bisnis.com. https://market.bisnis.com/read/20251219/7/1937994/adu-cuan-saham-konglomerat-vs-blue-chip-siapa-unggul-di-2026

Malik, A. (2025, February 26). Sektor Konsumer 2025: Begini Prospek Cuan Saham UNVR, MYOR, INDF, ICBP dan CMRY. Bareksa.com. https://www.bareksa.com/berita/saham/2025-02-26/sektor-konsumer-2025-begini-prospek-cuan-saham-unvr-myor-indf-icbp-dan-cmry

TRADING ECONOMICS. (n.d.). Indonesia interest rate. https://tradingeconomics.com/indonesia/interest-rate

Fadli, M. J. (2025, December 5). Investor Asing Net Sell Rp27 T Sepanjang 2025 Saat IHSG Naik 22% - Market. Bloomberg Technoz. https://www.bloombergtechnoz.com/detail-news/92616/investor-asing-net-sell-rp27-t-sepanjang-2025-saat-ihsg-naik-22

Nurcahyadi, A. (2026). Sector report. In KBVS Research (p. 1) [Report]. https://kbvalbury.com/cfind/source/files/banking-sector-update-27-jan-2026.pdf

ICBP - Analisis fundamental. (n.d.). Brids. https://www.brights.id/id/blog/icbp-desember-2025

Grahanusa Mediatama. (2026, January 21). Pemulihan Kinerja Indofood CBP (ICBP) Akan Terlihat di 2026, Cek Rekomendasi Sahamnya. kontan.co.id. https://investasi.kontan.co.id/news/pemulihan-kinerja-indofood-cbp-icbp-akan-terlihat-di-2026-cek-rekomendasi-sahamnya

Pulungan, M. A. (2026, February 6). Sektor konsumer Mulai Pulih, ICBP jadi jagoan pilihan analis. KabarBursa.com. https://www.kabarbursa.com/makro/sektor-konsumer-mulai-pulih-icbp-jadi-jagoan-pilihan-analis

Indonesia, B. (n.d.). BI-Rate held at 4.75%: Maintaining stability, strengthening economic growth. https://www.bi.go.id/en/publikasi/ruang-media/news-release/Pages/sp_2727425.aspx

DAILY ECONOMIC INSIGHTS. (2026). DAILY ECONOMIC INSIGHTS. https://samuel.co.id/wp-content/uploads/2026/02/Daily-Economic-Report_05022026_EN.pdf

Grahanusa Mediatama. (2026, February 8). IHSG Berpotensi Bergerak Terbatas pada Senin (9/2), Ini Kata Analis. kontan.co.id. https://investasi.kontan.co.id/news/ihsg-berpotensi-bergerak-terbatas-pada-senin-92-ini-kata-analis

Kusmayadi, R. (2024, March 9). Bukti Nyata Hilirisasi Nikel, Indonesia SIAP Produksi Massal baterai Kendaraan Listrik Pada April 2024. Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM. https://www.bkpm.go.id/id/info/siaran-pers/bukti-nyata-hilirisasi-nikel-indonesia-siap-produksi-massal-baterai-kendaraan-listrik-pada-april-2024

Grahanusa Mediatama. (2025, July 17). Strategi Barito Pacific Ciptakan Portofolio Andal dan Berkelanjutan. kontan.co.id. https://industri.kontan.co.id/news/strategi-barito-pacific-ciptakan-portofolio-andal-dan-berkelanjutan

Redaksi. (2026, January 21). MSCI Ubah Metodologi, Dana Rp33,8 Triliun Terancam Keluar dari Pasar Modal Indonesia. Warta Ekonomi. https://wartaekonomi.co.id/read597431/msci-ubah-metodologi-dana-rp338-triliun-terancam-keluar-dari-pasar-modal-indonesia

Dermawan, R. T. (2026, January 20). Dana Asing Rp32 T Bisa Menguap Jika Pembobotan Baru MSCI Berlaku - Market. Bloomberg Technoz. https://www.bloombergtechnoz.com/detail-news/96882/dana-asing-rp32-t-bisa-menguap-jika-pembobotan-baru-msci-berlaku

Mediatama, G. (2026, January 8). Rebalancing MSCI Februari 2026, Ini Saham Yang berpotensi Masuk. kontan.co.id. https://investasi.kontan.co.id/news/rebalancing-msci-februari-2026-ini-saham-yang-berpotensi-masuk

TV, Metro. (2026, January 28). MSCI Bekukan Rebalancing Indeks, Saham Konglomerat Indonesia “Berontak.” Metrotvnews.com. https://www.metrotvnews.com/read/kM6C4Z4o-msci-bekukan-rebalancing-indeks-saham-konglomerat-indonesia-berontak

Situmorang, P. (2026, January 9). Rebalancing MSCI Februari 2026, BUMI dan PTRO Dinilai Berpeluang Masuk Indeks. InvestorTrust. https://investortrust.id/market/90839/rebalancing-msci-februari-2026-bumi-dan-ptro-dinilai-berpeluang-masuk-indeks

 Fadli, M. J. (2026, January 29). IHSG Berpotensi Rebound, Resistance Terdekat 8.000 - Market. Bloomberg Technoz. https://www.bloombergtechnoz.com/detail-news/98005/ihsg-berpotensi-rebound-resistance-terdekat-8-000

Simpan Macro Outlook 2026: Rotasi ke Saham Blue Chip dan Obligasi Tidak Lagi Bergantung Investor Asing. (n.d.). swa.co.id. https://swa.co.id/read/467862/simpan-macro-outlook-2026-rotasi-ke-saham-blue-chip-dan-obligasi-tidak-lagi-bergantung-investor-asing

Paramahamsa, I. P. G. R., & Pernando, A. (2026, January 16). Saham Sektor Konsumer 2026: Analis Jagokan ICBP, INDF, hingga AMRT. Bisnis.com. https://market.bisnis.com/read/20260116/189/1944590/saham-sektor-konsumer-2026-analis-jagokan-icbp-indf-hingga-amrt

VKTR Laporkan Kinerja 9M25: Rampungkan Perakitan 20 Unit Bus Listrik, Perluas Fokus Adopsi Kendaraan Listrik Komersial Di Berbagai Sektor | VKTR. (n.d.-b). https://vktr.id/id/news/vktr-laporkan-kinerja-9m25-rampungkan-perakitan-20-unit-bus-listrik-perluas-fokus-adopsi

Binekasri, R. (2026, February 5). Emiten Bakrie (VKTR) Gandeng 2 Perusahaan Ini Garap Bus Listrik. CNBC Indonesia. https://www.cnbcindonesia.com/market/20260205112555-17-708405/emiten-bakrie--vktr--gandeng-2-perusahaan-ini-garap-bus-listrik